Agustus 27, 2011

Cara Melupakan Mantan Pasangan

 



PUTUS cinta memang menyebalkan. Namun masih ada yang lebih buruk, bagaimana bisa melupakan mantan.

Begitu putus, tetap saja Anda menyelidiki kehidupan mantan. Mengintip Facebook, terus mengamati akun Twitter-nya, sampai mencari tahu dengan siapa dia menjalin hubungan.

Tidak gampang memutuskan hubungan dengan pasangan, apalagi yang sudah cukup lama pacaran.

Menurut Rebecca Gladding, MD, penulis buku You Are Not Your Brain, jika Anda mengatasi periode pascaputus dengan cara yang tepat, Anda mampu melupakan si dia lebih cepat, bahkan bisa menggandeng pacar baru lagi dalam waktu singkat –tanpa harus melewati hari demi hari penuh penyesalan dan air mata.

Anda yang memutuskan hubungan, berarti Anda lebih mudah melupakan si dia. Belum tentu. Meski tahu dia bukanlah pasangan yang tepat untuk mendampingi Anda, tidak semudah itu melupakan mantan pasangan.

“Mengingat hasrat diproses di bagian lain dalam otak –tidak menjadi satu dengan bagian rasional, jangan heran jika Anda bertindak tanpa mempertimbangkan tujuan jangka panjang,” cetus Rebecca.

Terlepas dari alasan putus, perpisahan memicu niat yang amat besar untuk segera mengisi kekosongan yang ditinggalkan. Putus-sambung dengan si mantan, atau langsung menanggapi siapa saja yang menggoda menjadi pemandangan biasa. Padahal ada cara yang tepat untuk melupakan si mantan dan siap menjalin hubungan baru. Caranya?

1.    Ikuti aturan 30 menit. Begitu terpikir untuk menghubungi mantan, Anda tahu sepertinya Anda kangen dan ingin bertemu. Tapi mungkin saja Anda a) kesepian atau b) bosan.

“Jika Anda menghentikan kebiasaan ini dan sempat memikirkannya lagi, Anda akan bisa membedakan hasrat ingin bertemu atau sekadar bosan,” kata Rebecca.

Gunakan aturan 30 menit. Ketika keinginan untuk mengirim SMS, menelepon, atau menemui dia begitu besar, lakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatian, seperti joging atau mengintip blog favorit. Sepertinya sederhana, namun setelah setengah jam memikirkan hal lain, Anda tak lagi ingin menghubungi si mantan.

“Keinginan itu hanya sekelebatan saja, dan Anda bisa tetap di lintasan yang benar jika bisa mengalihkan perhatian,” lanjut Rebecca.

2.    Kenali pemicunya (hmm, Facebook?). “Kebanyakan wanita punya keinginan yang spesifik –sesuatu yang akan memicu ingatan dan kembali memikirkan si mantan,” jelas Rebecca.

Luangkan waktu untuk memikirkan dan mengenali perilaku seperti apa yang membuat Anda merasa kelimpungan –sampai-sampai terus mengamati wall Facebook si mantan, mendengarkan lagu-lagu favorit Anda berdua, kembali ke restoran tempat mantan biasa membawa Anda—dan ambil tindakan. Mungkin ini berarti memblok post mantan di Facebook untuk sementara waktu atau membuang segala macam benda yang berkaitan dengannya ke tempat sampah.

“Kalau baru putus, Anda masih rapuh dan emosional,” ungkap Rebecca.

“Membuang segala macam yang berkaitan dengan si mantan akan membantu Anda melupakan kepiluan.”

3.    Hubungi sahabat Anda. Salah satu pengalih perhatian terbaik? Tak lain obrolan panjang dengan sahabat. Masalahnya, curhat seperti ini bisa saja malah jadi bumerang. Jika tak terkendali, malah arahnya kepengin balik lagi.

“Pasti menyenangkan punya teman yang bisa memahami apa yang terjadi, tapi beda jika dia mendukung Anda yang terobsesi dengan mantan. Terus saja membicarakan mantan dengan menggebu-gebu, mencari berita paling anyar tentang dirinya. Jarang sekali setelah curhat begini Anda merasa lebih baik dengan status lajang,” kata Rebecca mengingatkan. “Anda pada akhirnya menanyakan kabar mantan, ingin tahu apakah dia sudah punya pacar baru, dan sebagainya.” Jadi jangan lupa untuk curhat kepada orang yang tepat. Orang yang bisa mengendalikan pembicaraan dan tetap fokus pada hal-hal di luar si mantan.

4.    Buat daftar. Cari dan ketahui 3 alasan utama Anda lebih baik tanpa mantan alias sendirian ketimbang meneruskan hubungan dengannya.

Apakah itu karena dia tidak cocok dengan keluarga Anda, dia tak pernah bisa mendukung Anda, atau karena dia tak punya selera film yang sama. Menarik melihat hubungan Anda dengannya dengan kacamata baru. Tapi ingat, ini pandangan yang realistis.

“Begitu Anda punya kesempatan melihat dalam kerangka yang lebih besar, Anda akan lebih memahami apa yang terjadi sebenarnya. Anda tak akan berkeinginan untuk kembali menjalin hubungan dengan mantan yang jelas tidak tepat untuk Anda,” pungkas Rebecca.

SUMBER

0 komentar:

Poskan Komentar