Juli 30, 2013

Aku mulai JENUH

Aku mulai jenuh dengan hari-hariku
Jenuh dengan penantian yg tak kunjung menemukan jalan
Jenuh dengan kesendirian setelah lama kamu tinggal
Apakah kamu juga merasakan?

Aku mulai jenuh dengan hatiku
Yg selalu saja dipenuhi oleh kamu
Yg selalu saja disakiti dengan harapan palsu
Apakah kamu sadar?

Aku mulai jenuh dengan malamku
Ketika harus menunggu pesan yg tak lagi datang
Ketika harus menunggu kamu dalam daftar obrolan
Apakah kamu telah melupakan?

Aku mulai jenuh dengan duniaku
Semua orang masih saja mengingatkanku padamu
Semua orang masih saja melihat kamu dalam diriku
Apakah kamu tau?

Bagaikan hujan yg terus-menerus datang
Membuat jenuh setiap orang
Bagaikan terik mentari yg panas menyinari
Membuat gerah setiap hari

Aku ingin bebas, aku ingin lepas
Dari bayang-bayangmu
Yg selama ini mengikuti setiap langkahku
Ku rasa cukup aku tersakiti olehmu
Karena 3 tahun bukanlah putaran waktu yg singkat
Bukanlah detik yg bisa dengan mudahnya kau hitung
Tak bisa kau bayangkan bukan?
Betapa selama 3 tahun ini,
Seorang gadis bodoh menunggumu
Aku.

Juli 29, 2013

Masih tentang kamu.

Dari jauh aku sudah tau itu kamu... Entah , aku juga heran dengan diriku sendiri. Begitu hafal sosokmu meski sudah lama tak bertemu. Seorang pria dengan tinggi 174cm yg selalu memenuhi rongga pikiran dan hatiku. Kemarin, dia nampak masih seperti dulu. Tatap matanya yg selalu saja berpaling dari tatapanku. Gerak-geriknya yg seakan tak peduli, oh atau memang benar tak peduli? :')

Sembari bercerita dengan teman-temanku, aku mendengar tawa renyah itu. Candaanmu, yg pernah ku nikmati dulu. Terdengar sedikit canggung di telingaku, apa kamu risih dengan adanya aku?
Aku bahkan berfikir kamu tak akan hadir, dan aku sempat berucap "kalo dia dateng berarti dia jodoh gue" hahaha terdengar lucu dan berlebihan. Tapi aku berharap itu adalah kenyataan.

Seusai itu, aku di kagetkan dengan ledekanmu. Ya Tuhan , betapa berdebar jantungku kala itu. Sungguh? Dia ... aaa bukan hal yg penting tapi buatku bermakna. Aku bahagia.

"Semua wanita pasti ingin di perhatikan oleh orang yg dia sayang."
Begitu jg denganku, sedikit tingkah kecil ku lakukan untuk membuatmu melirik ke arahku. Namun sepertinya itu sia-sia, kamu bahkan begitu kaku dihadapanku.

Moment itupun berakhir, sedih... Tak banyak hal yg bisa aku lakukan, begitu juga denganmu. "Kalo niat sih seharusnya ga gini, kalo niat loh.. kalo niat!" keluhku dalam hati. Kenapa kamu tak bisa manfaatkan kesempatan ini? Kamu bilang .... ah sudahlah mungkin kamu menyesal pernah mengirim pesan itu untukku. Meski jujur, aku masih menanti kepastian darimu sejak 5 Juli lalu.

Perpisahan kecil itu pun terjadi, dan kejadian sederhana yg membuatku bahagia kembali ku temui. Kamu dan salam kita, lagi-lagi begitu bermakna :)

Juli 26, 2013

Sabtu Malam .

"Come back, come back, come back to me. Like you could, you could if this was a movie..."

Lagu berjudul 'If This Was a Movie' dari Taylor Swift menemaniku menikmati derasnya hujan di sabtu malam yg sering mereka sebut dengan malam minggu. Selalu saja aku melalui nya sendiri, entah sudah berapa sabtu malam yg ku lewati sejak akhir tahun 2010 itu. Aku mencoba menghitung dengan jariku dan... ah entah ini terlalu banyak.
Aku sejenak terdiam, sedikit tersentak ketika lagu tadi berakhir dan kini berganti menjadi lagu 'Not With Me' milik Bondan and Fade2Black. Kenapa harus lagu ini, iyaa memang aku sengaja men-shuffle nya tapi apa iya harus lagu ini? Hftt... Perasaanku menjadi tak karuan setiap ku dengar lagu ini, ada sakit yg mengiris hati yg seakan membuatku kembali merasakan pahitnya sabtu malam itu. Aku benci!
Ku matikan mp3 di handphoneku, sembari ku lihat mungkin ada pesan yg masuk. Dan ternyata... aku kembali menghela nafas panjang, belum ada pesan masuk juga. Padahal sudah jam 10 malam lebih, loh? apakah ini sebuah masalah? Tentu bukan kan? Ah berpikir apa aku ini. Tentu tidak menjadi masalah ketika jarum jam menunjukkan pukul 10 malam namun tak juga ku dapati nama nya muncul dalam layar handphone ku. Bodoh sekali aku ini. Apa kalian tau? Aku selalu merasakan ini di setiap sabtu malamku, perasaan yg sudah aku tau ini bodoh namun tetap ku rasakan juga.

"Perasaan tidak bisa dipaksakan"
Aku tidak pernah memaksa perasaanku untuk merasakan ini semua, karena ini terjadi dengan begitu saja. Hari demi hari berlalu dengan wajarnya, aku mengingatnya. Itu tidak wajar? Ini sangat wajar bagiku, inilah hariku. Mengingat, mengenang kemudian menangis merasakan kerinduan. Hanya manusia bodoh yg mau menjalani harinya dengan rutinitas tak masuk akal dan hanya menyakiti diri sendiri.
Apakah aku termasuk dalam kategori itu? Sungguh aku tak berharap begitu.
Kembali ku nyalakan lagu, kali ini lagu milik Bruno Mars berjudul 'Move On'. Aku mendengarkan lagu ini dengan perasaan, kemudian merasa kesal dan mengganti lagu nya dengan yg lebih bersemangat. Betapa labilnya aku?! Aku saja bingung dengan diriku sendiri, apalagi teman-temanku. Manusia macam apa yg rela membiarkan hatinya terus-menerus merasakan sakit yg sebenarnya bisa saja dia sembuhkan.
Sudah cukup jenuh, kesal dan galau. Aku memutuskan untuk men-non aktifkan handphone ku, ku tekan tombol power untuk mematikannya. Dan.. taaraa! Nama nya kemudian muncul di layar handphone ku, wah! dia mengirim pesan untukku. Senyumku mengembang, sungguh... perasaan yg tadinya campur aduk tak karuan kini berubah menjadi kebahagiaan. Ini dia moodbooster sekaligus moodbreakerku. Haha, dia yg menggalaukanku dan menyembuhkan kegalauan di hatiku.
Yah, terdengar labil. Sangat labil.

Juli 22, 2013

Maafkan aku memberimu 'Harapan Palsu'

“Cinta itu harusnya kamu jadiin tujuan, bukan cuma persinggahan.”
Kata-kata itu kian mengendap di otakku, kata-kata dari seorang gadis manis di masa lalu yg beberapa waktu lalu sempat kembali menghiasi hari-hariku.

Semenjak 3 tahun lalu aku meninggalkannya, dia masih rajin menyapaku dan aku pun kerap menegurnya. Sesekali terbesit perasaan menyesal pernah menyakitinya, namun perasaan itu begitu mudahnya sirna. Kini dia kembali hadir, lebih tepatnya aku yg mengusiknya dan memaksanya untuk kembali menyentuh kenangan kita. Beberapa waktu lalu entah kenapa aku merasa begitu merindukannya, merindukan saat-saat bersamanya yg tak begitu aku ingat. Hingga aku seakan memintanya untuk kembali bersama, aku tak yakin dengan itu semua yg aku tau saat itu aku benar-benar ingin membuatnya kembali disini denganku.
Hari-hari berlalu dengan perhatiannya yg selalu menghangatkanku, dia masih seperti dulu. Sosok gadis manis yg paling mengerti aku, yg paling mampu menerima segala sifatku. Meski aku sering mengabaikannya, dia tak pernah berhenti mewarnai hariku. ‘Yuna’ , sebut saja dia Yuna dan aku sendiri Aldi.

Begitu singkatnya perasaanku, aku mulai jenuh. Entah apa yg membuatku merasa seperti itu... Yuna kembali menjadi sosok yg asing bagiku, meski dia masih setia menemani tengah malam hingga pagi ku melalui susunan huruf dalam kalimat yg terkadang membuatku tersentak. Dia sering menyisipkan tanya dalam canda yg mampu membuatku sedikit merenung, ‘apakah benar aku mempermainkan perasaannya’. Bukan hal yg mudah untuk bertahan dalam sebuah pengabaian yg terus aku lakukan, sementara dia tetap saja setia.
Aku mengerti dia begitu berharap akan kembalinya ‘kita’. Apa yg sesungguhnya aku lakukan? Terus mengulur waktuku tanpa tau kapan aku benar-benar bisa menemuinya. Ya, aku pernah menjanjikan sebuah pertemuan yg sampai saat ini belum kesampaian.


Aku kejam? Aku memberinya sebuah harapan kosong? Aku tak bisa berkata ‘iya’ atau 'tidak' atas itu semua. Maafkan aku atas semua ini, terus memberikanmu harapan yg tak pasti.