"Come back, come back, come back to me. Like you could, you could if this was a movie..."
Lagu berjudul 'If This Was a Movie' dari Taylor Swift menemaniku menikmati derasnya hujan di sabtu malam yg sering mereka sebut dengan malam minggu. Selalu saja aku melalui nya sendiri, entah sudah berapa sabtu malam yg ku lewati sejak akhir tahun 2010 itu. Aku mencoba menghitung dengan jariku dan... ah entah ini terlalu banyak.
Aku sejenak terdiam, sedikit tersentak ketika lagu tadi berakhir dan kini berganti menjadi lagu 'Not With Me' milik Bondan and Fade2Black. Kenapa harus lagu ini, iyaa memang aku sengaja men-shuffle nya tapi apa iya harus lagu ini? Hftt... Perasaanku menjadi tak karuan setiap ku dengar lagu ini, ada sakit yg mengiris hati yg seakan membuatku kembali merasakan pahitnya sabtu malam itu. Aku benci!
Ku matikan mp3 di handphoneku, sembari ku lihat mungkin ada pesan yg masuk. Dan ternyata... aku kembali menghela nafas panjang, belum ada pesan masuk juga. Padahal sudah jam 10 malam lebih, loh? apakah ini sebuah masalah? Tentu bukan kan? Ah berpikir apa aku ini. Tentu tidak menjadi masalah ketika jarum jam menunjukkan pukul 10 malam namun tak juga ku dapati nama nya muncul dalam layar handphone ku. Bodoh sekali aku ini. Apa kalian tau? Aku selalu merasakan ini di setiap sabtu malamku, perasaan yg sudah aku tau ini bodoh namun tetap ku rasakan juga.
"Perasaan tidak bisa dipaksakan"
Aku tidak pernah memaksa perasaanku untuk merasakan ini semua, karena ini terjadi dengan begitu saja. Hari demi hari berlalu dengan wajarnya, aku mengingatnya. Itu tidak wajar? Ini sangat wajar bagiku, inilah hariku. Mengingat, mengenang kemudian menangis merasakan kerinduan. Hanya manusia bodoh yg mau menjalani harinya dengan rutinitas tak masuk akal dan hanya menyakiti diri sendiri.
Apakah aku termasuk dalam kategori itu? Sungguh aku tak berharap begitu.
Kembali ku nyalakan lagu, kali ini lagu milik Bruno Mars berjudul 'Move On'. Aku mendengarkan lagu ini dengan perasaan, kemudian merasa kesal dan mengganti lagu nya dengan yg lebih bersemangat. Betapa labilnya aku?! Aku saja bingung dengan diriku sendiri, apalagi teman-temanku. Manusia macam apa yg rela membiarkan hatinya terus-menerus merasakan sakit yg sebenarnya bisa saja dia sembuhkan.
Sudah cukup jenuh, kesal dan galau. Aku memutuskan untuk men-non aktifkan handphone ku, ku tekan tombol power untuk mematikannya. Dan.. taaraa! Nama nya kemudian muncul di layar handphone ku, wah! dia mengirim pesan untukku. Senyumku mengembang, sungguh... perasaan yg tadinya campur aduk tak karuan kini berubah menjadi kebahagiaan. Ini dia moodbooster sekaligus moodbreakerku. Haha, dia yg menggalaukanku dan menyembuhkan kegalauan di hatiku.
Yah, terdengar labil. Sangat labil.
Juli 26, 2013
Juli 22, 2013
Maafkan aku memberimu 'Harapan Palsu'
“Cinta itu harusnya
kamu jadiin tujuan, bukan cuma persinggahan.”
Kata-kata itu kian mengendap di otakku, kata-kata dari
seorang gadis manis di masa lalu yg beberapa waktu lalu sempat kembali
menghiasi hari-hariku.
Semenjak 3 tahun lalu aku meninggalkannya, dia masih rajin
menyapaku dan aku pun kerap menegurnya. Sesekali terbesit perasaan menyesal
pernah menyakitinya, namun perasaan itu begitu mudahnya sirna. Kini dia kembali
hadir, lebih tepatnya aku yg mengusiknya dan memaksanya untuk kembali menyentuh
kenangan kita. Beberapa waktu lalu entah kenapa aku merasa begitu
merindukannya, merindukan saat-saat bersamanya yg tak begitu aku ingat. Hingga
aku seakan memintanya untuk kembali bersama, aku tak yakin dengan itu semua yg
aku tau saat itu aku benar-benar ingin membuatnya kembali disini denganku.
Hari-hari berlalu dengan perhatiannya yg selalu
menghangatkanku, dia masih seperti dulu. Sosok gadis manis yg paling mengerti
aku, yg paling mampu menerima segala sifatku. Meski aku sering mengabaikannya,
dia tak pernah berhenti mewarnai hariku. ‘Yuna’ , sebut saja dia Yuna dan aku
sendiri Aldi.
Begitu singkatnya perasaanku, aku mulai jenuh. Entah apa yg
membuatku merasa seperti itu... Yuna kembali menjadi sosok yg asing bagiku,
meski dia masih setia menemani tengah malam hingga pagi ku melalui susunan huruf
dalam kalimat yg terkadang membuatku tersentak. Dia sering menyisipkan tanya
dalam canda yg mampu membuatku sedikit merenung, ‘apakah benar aku mempermainkan perasaannya’. Bukan hal yg mudah
untuk bertahan dalam sebuah pengabaian yg terus aku lakukan, sementara dia
tetap saja setia.
Aku mengerti dia begitu berharap akan kembalinya ‘kita’. Apa
yg sesungguhnya aku lakukan? Terus mengulur waktuku tanpa tau kapan aku
benar-benar bisa menemuinya. Ya, aku pernah menjanjikan sebuah pertemuan yg
sampai saat ini belum kesampaian.
Aku kejam? Aku memberinya sebuah harapan kosong? Aku tak
bisa berkata ‘iya’ atau 'tidak' atas itu semua. Maafkan aku atas semua ini, terus
memberikanmu harapan yg tak pasti.
Langganan:
Postingan (Atom)